JAKARTA – Grup musik pendatang baru, BATARA, resmi menggebrak industri musik Tanah Air lewat perilisan single perdana mereka bertajuk “Horas Ma Ito”. Mengusung napas kebudayaan Batak, grup vokal ini menghadirkan perpaduan unik antara instrumen tradisional, lirik multibahasa, serta ketukan hipdut (Hip Hop Dangdut) yang menyasar telinga generasi muda.
Lagu “Horas Ma Ito” secara khusus mengangkat fenomena sosial yang kerap dihadapi masyarakat Batak, yakni urusan sinamot alias mahar pernikahan. Salah satu vokalis BATARA, Zul, mengungkapkan bahwa tema ini berangkat dari realitas keseharian yang sering menjadi tantangan besar bagi para pemuda Batak (doli-doli) untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
“Memang kita angkat lagu ini sesuai realita yang ada. Sering viral soal kenapa orang Batak itu terkenal lama menikah. Karena memang sinamot ini menjadi beban dan perjuangan besar buat doli-doli Batak,” tutur Zul dalam konferensi pers peluncuran single perdana BATARA di Jakarta Selatan, Kamis, 17 September.
Zul menambahkan, penggarapan lirik dan aransemen lagu dilakukan secara kolektif bersama tim manajemen, termasuk arahan langsung dari pihak pembina, guna menyuntikkan semangat positif kepada para pendengar.
Meski mengangkat tema adat yang sakral dan kerap dinilai berat, BATARA memilih mengemasnya dalam balutan musik yang ceria dan bersemangat. Personel lainnya, Beatrix Tampubolon, menyebut sentuhan hipdut dipilih atas usulan sang manajer, Eros, demi menyesuaikan tren pasar musik saat ini yang sangat dinamis, khususnya di platform digital seperti TikTok.
“Kita menyemangatinya lewat lagu yang happy, supaya enggak jadi beban saat mengumpulkan mahar. Aransemennya kita buat easy listening dengan irama kopdut karena tren musik sekarang arahnya ke sana, biar bisa masuk ke Gen Z dan Gen Alpha,” jelas Beatrix.
Kekhasan lagu ini kian terasa lewat penyematan instrumen tradisional Batak, taganing, serta lirik yang memadukan tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Batak, dan Inggris.
Perjalanan BATARA tak lepas dari peran dua sosok penting di balik layar, yakni pasangan eksekutif produser sekaligus pembina, Robinson Tampubolon dan Lonata Simanjuntak. Robinson menceritakan, terbentuknya grup ini berawal dari ketidaksengajaan saat ia diminta membentuk sebuah band pengisi acara gereja pada akhir tahun 2025.
“Awalnya saya comot-comot personel dan kalau ditanya band apa, saya jawab ‘Rojali’ alias rombongan jadi sekali,” seloroh Robinson yang disambut tawa hadirin.
Setelah tampil di berbagai panggung, termasuk ajang Pekan Raya Sumatera Utara hingga HUT Kabupaten Toba, Robinson melihat adanya potensi besar dan kecocokan yang solid antarmember. Nama grup kemudian diresmikan menjadi BATARA, yang terinspirasi dari nama sang putra, Fahmi Batara Sakti.
Bagi Robinson dan Lonata, BATARA bukan sekadar proyek musik komersial biasa, melainkan wadah regenerasi musisi Batak agar mampu bersaing di kancah nasional hingga internasional. Lonata berharap, BATARA bisa menjadi representasi musik daerah yang inklusif dan diterima oleh semua kalangan.
“Kami ingin menciptakan band Batak yang lagunya bisa dinikmati semua kalangan umur. Bukan sekadar lagu daerah, tapi lagu yang dinyanyikan orang Batak yang bisa menembus skala nasional,” ungkap Lonata.
Lebih jauh, Robinson menaruh harapan besar bagi masa depan BATARA dan ekosistem musik Batak secara umum. Salah satu target jangka panjang yang ingin diwujudkan adalah membangun studio rekaman sendiri. Keberadaan studio tersebut diharapkan mampu memfasilitasi bibit-bibit muda potensial sekaligus menjamin kesejahteraan musisi di masa tua melalui tata kelola hak cipta yang profesional.
“Harapan saya, BATARA ini nantinya bisa melahirkan studio sendiri. Dari studio itulah karya-karya terarah bisa lahir, bibit-bibit muda bisa diajak berkembang, dan musisi memiliki sandaran nafkah yang berkelanjutan,” pungkas Robinson.







